Sabda Bina Umat – Jum’at, 9 November 2018

  • on 09/11/2018

Sabda Bina Umat – Jum’at, 9 November 2018

Renungan Pagi
GB. 345 : 1- Berdoa

IKUT SERTA MENYEJAHTERAKAN KOTA
Yeremia 29 : 1 – 7

29:1 Beginilah bunyi surat yang dikirim oleh nabi Yeremia dari Yerusalem kepada tua-tua di antara orang buangan, kepada imam-imam, kepada nabi-nabi dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebukadnezar dari Yerusalem ke Babel.
29:2 Itu terjadi sesudah raja Yekhonya beserta ibu suri, pegawai-pegawai istana, pemuka-pemuka Yehuda dan Yerusalem, tukang dan pandai besi telah keluar dari Yerusalem.
29:3 Surat itu dikirim dengan perantaraan Elasa bin Safan dan Gemarya bin Hilkia yang diutus oleh Zedekia, raja Yehuda, ke Babel, kepada Nebukadnezar, raja Babel. Bunyinya:
29:4 "Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, kepada semua orang buangan yang diangkut ke dalam pembuangan dari Yerusalem ke Babel:
29:5 Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya;
29:6 ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang!
29:7 Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.

“ Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”

( ayat 7 )

Yeremia menyampaikan suara Tuhan melalui surat yang ia kirim kepada tua-tua di antara orang buangan, kepada imam-imam, nabi-nabi dan seluruh rakyat yang sudah berada dipembuangan Babel. Masa pembuangan harus dijalani umat sebagai akibat dari dosa mereka. Yeremia katakan dalam suratnya, di manapun mereka berada sekarang, bahkan sebagai tawanan sekalipun, mereka harus tetap menjalankan kehidupan seperti mereka berada di tanah air mereka sendiri, Yerusalem. Di Babel mereka tetap harus mempunyai harapan, semangat hidup dan terus berjuang mengupayakan kehidupan mereka. Di pembuangan mereka harus tetap menjalankan kehidupan dalam takut akan Tuhan, kehidupan yang baik dan benar; kehidupan yang sesuai dengan maksud dan rencana Tuhan bagi mereka. Pembuangan jangan sampai membuat umat hidup tanpa harapan, tetapi sebaliknya tetap hidup berpengharapan.

Tulis Yeremia, “Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; ambillah istri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah istri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang” (ayat 5-6). Yeremia menyerukan, sesuai kehendak Tuhan supaya umat hidup normal di tanah pembuangan. Kehidupan tetap berlangsung seperti ketika mereka hidup di tanah mereka. Jika di tanah mereka, mereka harus tunduk pada peraturan kota dan mengupayakan kesejahteraan kota, maka ketika berada di pembuangan merekapun harus terlibat mengupayakan kota. Jika tempat di mana mereka berada sekarang sejahtera, maka mereka juga akan merasakannya.

Di manapun orang percaya berada, maka mereka harus terlibat aktif dalam upaya menyejahterakan tempat itu, karena sangat berdampak bagi kehidupan. Kata bijak perlu menjadi perhatian, di mana kaki berpijak di situ bumi dijunjung.

Doa : ( Tuhan, pakailah hidup kami untuk berarti bagi tempat di mana kami berada. Jadikanlah kami orang percaya yang dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat dalam upaya menyejahterakan tempat di mana kami menetap )

N.L.N/jm

Sumber : Sabda Bina Umat Oktober – November 2018