Sabda Bina Umat – Kamis, 27 Desember 2018

  • on 27/12/2018

Sabda Bina Umat – Kamis, 27 Desember 2018

Renungan Pagi
KJ. 112 : 1,2 – Berdoa

DIPERSATUKAN DALAM KRISTUS
Efesus 2 : 11 – 16

2:11 Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu -- sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya "sunat", yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, --
2:12 bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.
2:13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.
2:14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,
2:15 sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,
2:16 dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.

…. yang telah mempersatukan kedua pihak … (ayat 14)

Warga jemaat yang berada di jemaat Efesus didominasi oleh orang-orang bukan Yahudi. Mereka cenderung merendahkan sesama Kristen dari keturunan Yahudi. Situasi yang demikian ini, tidaklah sehat bila terjadi di jemaat mana pun juga. Dengan tugasnya diantara orang-orang bukan Yahudi, Paulus sama sekali tidak mendukung adanya perpecahan. Karena itu dari dalam penjara di Roma, Paulus menulis surat ini. Pada waktu itu orang-orang Yahudi dipisahkan dengan orang-orang bukan Yahudi oleh berbagai kendala: kesukuan, agama, budaya, dan sosial. Ada jurang pemisah antara mereka yang menyebut diri bersunat dengan orang-orang yang tidak bersunat.

Dengan kematian-Nya di salib, kedua pihak yang berbeda dipersatukan. Mereka yang berjauhan, dipersatukan. Kristus Yesus adalah “damai sejahtera kita”, yang merubuhkan tembok pemisah yaitu perseteruan. Melalui kematian-Nya Ia menciptakan suatu manusia baru didalam diri-Nya.

Di dalam masyarakat plural, tak dapat dipungkiri bahwa kebersamaan dan kesatuan selalu berada dalam ancaman oleh berbagai kendala karena ulah manusia sendiri. Karena itu persoalan-persoalan yang menyebabkan permusuhan termasuk kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat karena kendala-kendala ini. Perpecahan pun terjadi ditengah jemaat, antara suami-isteri karena yang satu merasa lebih baik dari yang lain.
Hanya Kristus yang dapat mempersatukan kita.

Doa : (Terima kasih Tuhan untuk karya-Mu yang mempersatukan kami)

S.I/lph
Sumber : Sabda Bina Umat Desember 2018 – Januari 2019