Sabda Bina Umat – Minggu, 11 November 2018

  • on 11/11/2018

Sabda Bina Umat – Minggu, 11 November 2018

RENUNGAN PAGI
GB. 245 : 1 – Berdoa

RELA BAGI SESAMA

Filipi 2 : 1 – 11

1. Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,
2. karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, 
3. dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; 
4. dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. 
5. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 
6. yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 
7. melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 
8. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 
9. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 
10. supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 
11. dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

“…janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri…” (ay.4)

Memperhatikan dan peduli sesama merupakan perbuatan langka untuk saat ini. Mengapa? Karena setiap orang hanya sibuk dengan urusan dan kepentingan masing-masing. Rasa untuk memberi perhatian dan peduli terhadap sesama sudah hilang. Walaupun masih ada orang yang masih peduli, namun Jumlahnya tidak banyak. Sesungguhnya, peduli sesama tidak pada satu moment atau kegiatan tertentu, tetapi pada setiap waktu dan kesempatan. Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Fi|ipi agar meneladani Yesus dalam kehidupan mereka. Kepedulian Yesus mencari jiwa-jiwa yang hilang, berdosa dan tersisih bukanlah kegiatan sesaat. Yesus sungguh melakukannya dengan panuh cinta kasih kepada umat-Nya. Bukan untuk menjadikan diri-Nya terkenal, namun semata-mata karena keselamatan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Kehadiran-Nya bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.
Yesus tidak menganggap diri-Nya setara dengan Allah, namun telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia — bahkan taat sampai mati (ay.6-8). Memang sulit bagi kita untuk “turun” dalam ke-statusan diri kita. Seakan-akan harga diri jatuh dan sulit menjadi sama dengan orang yang lebih rendah. Semuanya dikarenakan kita masih mementingkan diri bagi kesenangan dan kepentingan sendiri tanpa peduli sesama. Untuk itu harus ada kerelaan. Kerelaan untuk “turun” sama seperti sesama; “Turun” menggapai dan merangkul; “Turun” untuk bertindak. Kerelaan “turun” meninggalkan segala yang ada dalam diri dengan berbagi atas apa yang dimiliki. Dengan demikian tidak ada lagi perbedaan. Perbedaan yang membuat satu dengan yang lain terpisah atau memiliki jarak.
Mari di pagi ini kita memulainya dengan menjadikan sesame bagian dari diri kita. Menghadirkan orang lain dalam hidup yang membuat kita semakin hidup dalam dunia ini dengan berbagi dan menerima apa adanya. Selamat Rela Bagi Sesama.

Doa : (Bapa, ajar kami untuk mampu memberi diri dan rela menyatakan kehendak-Mu bagi sesama)

L.P.H/jm
Sumber : Sabda Bina Umat Oktober – November 2018