Sabda Bina Umat – Rabu, 28 November 2018

  • on 28/11/2018

Sabda Bina Umat – Rabu, 28 November 2018

Renungan Malam
GB. 229 : 1 – Berdoa
MENDERITA DALAM KEBENARAN, BERBAHAGIALAH
1 Petrus 2 : 18 – 25
.

18. Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.
19. Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.
20. Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.
21. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.
22. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.
23. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.
24. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.
25. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.

“Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung“ (ay. 19)

Melalui nas diatas Rasul Petrus menjelaskan bahwa ada kalanya kita harus menananggung penderitaan bukan karena kita melakukan hal yang salah atau jahat! Mari kita renungkan: “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam,…”(ay.23) Tuhan Yesus mempraktekkan kasih Allah saat berhadapan dengan para pengejek dan mereka yang membenci-Nya. Kebenaran Injil yang dikhotbahkan diberlakukan dengan cara kasih dan bukan dengan membalas kejahatan dengan kejahatan.
Kalau kita memperhatikan film-film yang beredar yang mengisahkan tentang kejahatan. Ada jagoan yang mengungkan segala kejahatan. Jagoan itu memiliki keahlian dan kekuatan untuk melawan kejahatan. Mereka berkorban menumpas kejahatan. Dan akhir dari cerita film itu, kejahatan itu dikalahkan, orang jahat itu mati atau tertangkap. Bagaimana dengan Yesus? Yesus punya segala-galanya!. Tetapi untuk siapa Yesus datang ke dunia ini? Untuk orang-orang baik saja? Bukan. Yesus datang untuk orang-orang yang dikatakan dalam ayat 24-25, orang berdosa dan sesat.
Bagaimana saudara mengelola kecenderungan untuk marah dan jengkel ketika segala cara sudah saudara lakukan, namun orang itu tidak mau mendengar atau menerimanya? Mari renungkan cara yang digunakan oleh Yesus. Bukan dengan kekuatan-Nya, melainkan dengan cara-Nya: menyerahkan diri (bukan memimpin pemberontakan), mmebiarkan diri menderita (bukan melawan), menerima salib dan mati (bukan melarikan diri). Tuhan Yesus melakukan semua-Nya karena kasih-Nya kepada manusia dalam ketaatan kepada Bapa-Nya. Kita diingatkan untuk tidak lari dari panggilan Tuhan untuk tetap mengasihi sekalipun terluka.

Doa: (Ya Allah ajar kami menyadari akan kehendak-Mu agar selalu memberikan kepada kami kepekaan dan kekuatan untuk melakukan setiap kehendak-Mu)

E.M /SGRS
Sumber : Sabda Bina Umat Oktober – November 2018