Sabda Bina Umat – Rabu, 31 Oktober 2018

  • on 31/10/2018

Sabda Bina Umat – Rabu, 31 Oktober 2018

HUT KE- 70 GPIB DAN HARI REFORMASI

Renungan Pagi
KJ. 233 : 1,2 – Berdoa
DALAM KASIH SEMUA SETARA
Filemon 1 : 8 – 16

1:8 Karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan,
1:9 tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya dari padamu. Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus,
1:10 mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus
1:11 -- dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku.
1:12 Dia kusuruh kembali kepadamu -- dia, yaitu buah hatiku --.
1:13 Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil,
1:14 tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela.
1:15 Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya,
1:16 bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan

“…supaya engkau dapat menerimanya untuk selamanya, sebagai saudara yang kekasih” ( ayat 15-16)

Afrika Selatan menganut politik apartheid, meskipun kekristenan menjadi kepercayaan kulit putih. Nelson Mandela adalah seorang kulit hitam yang melawan politik apartheid yang menekan orang kulit hitam dan menganggapnya lebih cocok menjadi budak daripada penguasa. Ia melupakan semua kejahatan penguasa kulit putih yang menganiaya dan memenjarakan dia dalam memperjuangkan kesamaan hak orang kulit hitam. Bagi Nelson Mandela, kasih Tuhan menjadikan manusia setara dan tanpa perbedaan asasi.

Dalam bacaan kita ini, Onesimus hanyalah seorang budak pelarian dan telah berbuat jahat, namun ia diterima oleh Paulus dalam kasih Tuhan. Ia disuruh kembali pada tuannya, Filemon, agar diterima kembali sebagai saudara dalam Tuhan. Filemon bukan saja menghormati Paulus, tetapi juga melaksanakan permintaan Paulus, mendudukan Onesimus sebagai orang merdeka, saudara yang kekasih. Walaupun ia telah disakiti dan dirugikan oleh Onesimus, budaknya, namun ia menerimanya dengan tulus sebagai saudara yang kekasih dan setara dengan dia. Berbeda dengan politik apartheid Afrika Selatan yang menekankan perbedaan status sosial warga kulit putih dan kulit hitam, walaupun penguasa kulit putih beragama Kristen, kasih mereka tidak berfaedah.

Kasih Tuhan memerdekakan, dengan hak asasi dan harga diri (martabat) yang sama pula. Kasih Tuhan mengatasi segala sesuatu, mengubah segala sesuatu dan menjadikan semua setara sebagai makhluk Tuhan. Dan hati setiap orang akan diuji oleh Roh Tuhan di hadapan-Nya.

Bisakah kita hidup dengan cinta kasih seperti itu dalam persekutuan umat dan dalam bermasyarakat? Kasih bukan basa-basi, tetapi dasar asasi hidup baru sebagai umat Yesus Kristus di dunia ini.

Doa : (Tuhan tolong kami, hidup dalam kasih tanpa perbedaan)

J.P.T/jm

Sumber : Sabda Bina Umat Oktober – November 2018