Sabda Bina Umat – Sabtu, 1 Desember 2018

  • on 01/12/2018

Sabda Bina Umat – Sabtu, 1 Desember 2018

Renungan Pagi

GB.325 : 1  “Tenang dan Sabarlah” – Berdoa

 

SABAR DALAM KETEKUNAN INJIL

2 Timotius 2 : 8–13

 

  1. Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.
  2. Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.
  3. Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.
  4. Benarlah perkataan ini: "Jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia;
  5. jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita;
  6. jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya."

 

“Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu. Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal” (ay.9-10)

 

Paulus mengalami penderitaan, seperti seorang penjahat karena tugasnya sebagai pemberita Injil. Semuanya ditanggung dengan penuh kesabaran. Hal yang sama Paulus nasihatkan kepada Timotius untuk turut ambil bagian dalam penderitaan karena Kristus. Paulus mengatakan hal ini karena terinspirasi dari keteladanan Yesus Kristus yang setia pada Bapa. Yesus Tuhan kita, ditolak oleh keluarganya, orang-orang sekotanya, juga para pemimpin agama. Ia datang ke dalam dunia untuk membawa terang hidup, tetapi dunia malah menyalibkan Dia (band. Yoh. 1:1). Akhirnya, penderitaan-Nya berakhir dengan kemenangan yang mulia.

Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan seseorang dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan dalam menghadapi berbagai masalah dan godaan. Memang mengendalikan dan mendisplinkan diri lebih sulit daripada mengendalikan atau mendisplinkan diri orang lain. Ketika kita dapat mengendalikan atau mendisiplinkan diri dengan baik, maka dengan mudah kita dapat mengajak orang lain juga untuk mengendalikan atau mendisplinkan diri.

Berita tentang Yesus Kristus menjadi dasar untuk sabar dan bertekun dalam kehidupan beriman dan pelayanan. Kematian dan kebangkitan-Nya menjadi pola untuk pertobatan, ketekunan, dan kesetiaan, serta penguatan ketika kita menghadapi kegagalan. Jadi, mengingat Kristus adalah kunci untuk menjadi pelayan dan warga jemaat yang baik. Selalu melibatkan Tuhan Yesus dalam seluruh kegiatan yang kita lakukan baik di dalam keluarga, di tengah persekutuan maupun saat kita hadir di ruang publik. Tentu hal demikian membutuhkan kedisplinan rohani yang baik dengan cara menghayati firman Tuhan, disiplin dalam doa serta komitmen melayani jemaat Tuhan sesuai karunia yang sudah dipercayakan Allah bagi kita. Penderitaan yang kita tanggung demi nama Yesus, tidak sebanding dengan kehidupan kekal yang dijanjikan-Nya.

Doa : (Ya Allah dan Bapa kami, bila gelombang menerpa hidupku, b’rilah ketenangan dan kesabaran membiarkan Tuhan yang beracara)

E.M/SGRS

Sumber : Sabda Bina Umat Desember 2018 – Januari 2019