Sabda Bina Umat – Selasa, 11 Desember 2018

  • on 11/12/2018

Sabda Bina Umat – Selasa, 11 Desember 2018

Renungan Pagi
GB. 278 – Berdoa

KEESAAN ALLAH BAPA DAN ANAK
Yohanes 5 : 19 -23

5:19 Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.
5:20 Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran.
5:21 Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.
5:22 Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak,
5:23 supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.

Supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa (ayat 23a)

Orang Yahudi mengakui Allah sebagai Bapa juga. Gelar Abba itu amat populer. Tuhan Yesus menyebut Allah sebagai Bapa-Nya. Namun Ia juga menyatakan bahwa diri-Nya eka atau satu dengan Bapa-Nya. Akibatnya adalah bahwa yang diperbuat oleh Tuhan Yesus dilakukan oleh karena diperbuat oleh Bapa-Nya. Apabila Bapa-Nya bekerja sampai saat Tuhan Yesus bersabda saat itu, ayat 17 -18, Ia pun akan terus bekerja. Seperti Bapa demikian Anak, singkatnya.

Kesatuan Anak dengan Bapa merupakan suatu keekaan. Keekaan sangat berbeda dengan keesaan. Keesaan menjadikan dua pribadi itu melebur jadi satu. Keekaan tidak melebur mereka menjadi satu tetapi hanya membuatnya eka atau satu, tetapi masih jelas dapat dibedakan baik pribadi maupun fungsi masing-masing.

Keekaan dengan Bapa membuat Tuhan Yesus hidup dan berfungsi sebagaimana dikehendaki oleh Bapa-Nya. Inilah suatu tindak identifikasi. Bersatu tetapi tetap terbedakan. Ada harmonisasi antara keduanya dalam identifikasi ini. Hubungan keekaan didasarkan atas kasih Bapa kepada Anak-Nya. Apa yang ditunjukkan oleh Bapa-Nya? Ia menunjukkan segala sesuatu yang telah diperbuat-Nya kepada Anak-Nya, bahkan menunjukkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar. Allah adalah Bapa-Nya secara khas. Tuhan Yesus memelihara Keekaan-Nya, Kedudukan, kedekatan-Nya dan Wewenang-Nya dengan Bapa-Nya. Apakah yang diperbuat Bapa-Nya yang juga diperbuat Anak-Nya? Bapa mempunyai kuasa memberikan hidup dan membangkitkan orang mati (ayat 21), demikian juga Tuhan Yesus Kristus. Bapa berhak menghakimi semua orang (ayat 22), demikian Tuhan Yesus juga. Bapa dihormati secara ilahi, demikian juga Anak (ayat 23), sebab Anak diutus oleh Bapa. Demikian dijelaskan dalam perikop bacaan kita.

Semua itulah yang dianggap oleh orang Yahudi sebagai perbuatan yang menghina Bapa. Orang demikian harus segera dihukum mati sesuai dengan syariat mereka. Mereka tak dapat membedakan arti keekaan dan keesaan. Hubungan mutlak antara Bapa-Nya dan Tuhan Yesus harus kita pahami dalam terang pengutusan-Nya kedalam dunia. Identifikasi kita dengan Tuhan Yesus juga dibutuhkan. Itu artinya kita harus hidup seperti Tuhan Yesus. Lalu bertanya, apakah yang dikehendaki Tuhan Yesus agar saya perbuat. Itulah identifikasi kita dengan-Nya dan pilihan bagaimana kita harus hidup.

Doa : (Tuhan, kami melihat jelas bahwa Tuhan diutus Bapa melakukan segala kebaikan yang menyelamatkan manusia)

H.J/SGRS
Sumber : Sabda Bina Umat Desember 2018 – Januari 2019