Sabda Bina Umat – Selasa, 27 November 2018

  • on 27/11/2018

Sabda Bina Umat – Selasa, 27 November 2018

Renungan Pagi
GB.78 : 1 – Berdoa

BATU HIDUP BUKAN BATU SANDUNGAN
1 Petrus 2 : 1 – 6

2:1 Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.
2:2 Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan,
2:3 jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.
2:4 Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah.
2:5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.
2:6 Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan."

“Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.” (ayat 6)

Dalam kenyataan yang kita jumpai sehari-hari, ada orang Kristen ternyata tidak selalu hidup rukun seorang dengan yang lain, bahkan antar sesama warga jemaat dan gereja Tuhan. Sesungguhnya tujuan utama hidup orang Kristen yakni menjadi saksi bagi orang lain, sehingga orang lain melihat pada diri kita sebagai contoh atau teladan dalam berbuat baik. Namun tanpa kita sadari, acapkali justru kita menjadi “batu sandungan” bagi orang lain, bukan menjadi “batu yang hidup”. Memang Yesus Kristus adalah batu pilihan, karena Dia dipilih oleh Allah untuk menjadi batu penjuru. Siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan dipermalukan.

Sebagai batu penjuru, Tuhan Yesus adalah pusat dari semua aspek kehidupan kita. Dia adalah batu yang menentukan arah kehidupan kita. Karena itu kita harus menjadikan Tuhan Yesus sebagai prioritas dan tujuan hidup kita. Rasul Petrus sendiri adalah rasul yang sudah memperbaharui dirinya. Ia mendesak orang percaya agar
(1) Membuang segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah,
(2) Menjadi sama seperti bayi yang baru lahir, selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, … , mengecap kebaikan Tuhan,
(3) Datang kepada-Nya,
(4) Siap dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, dan
(5) Siap menerima status baru yang terus menerus mau dibaharui.

Menjadi “batu yang hidup”, bukan “batu sandungan”, merupakan nasihat untuk melakukan koreksi atau semacam cek dan recek terhadap kehidupan kita sebagai orang Kristen, pelayan Kristus, jemaat Kristen atau gereja Kristen apakah hidup dan pelayanan kita menjadi batu yang hidup (menjadi berkat, membawa kebaikan) atau justru menjadi batu sandungan?

Doa : (Biarlah hidup kami menjadi alat Tuhan menjadi batu yang hidup untuk sesama dan semua ciptaan lainnya)

E.M/SGRS
Sumber : Sabda Bina Umat Oktober – November 2018