Sabda Bina Umat – Senin, 22 Oktober 2018

  • on 22/10/2018

Sabda Bina Umat – Senin, 22 Oktober 2018

Renungan Pagi
KJ. 407 : 1 – Berdoa
TUHAN MENJADI SAKSI
1 Samuel 12 : 1 – 5

12:1 Berkatalah Samuel kepada seluruh orang Israel: "Telah kudengarkan segala permintaanmu yang kamu sampaikan kepadaku, dan seorang raja telah kuangkat atasmu.
12:2 Maka sekarang raja itulah yang menjadi pemimpinmu; tetapi aku ini telah menjadi tua dan beruban, dan bukankah anak-anakku laki-laki ada di antara kamu? Akulah yang menjadi pemimpinmu dari sejak mudaku sampai hari ini.
12:3 Di sini aku berdiri. Berikanlah kesaksian menentang aku di hadapan TUHAN dan di hadapan orang yang diurapi-Nya: Lembu siapakah yang telah kuambil? Keledai siapakah yang telah kuambil? Siapakah yang telah kuperas? Siapakah yang telah kuperlakukan dengan kekerasan? Dari tangan siapakah telah kuterima sogok sehingga aku harus tutup mata? Aku akan mengembalikannya kepadamu."
12:4 Jawab mereka: "Engkau tidak memeras kami dan engkau tidak memperlakukan kami dengan kekerasan dan engkau tidak menerima apa-apa dari tangan siapa pun."
12:5 Lalu berkatalah ia kepada mereka: "TUHAN menjadi saksi kepada kamu, dan orang yang diurapi-Nya pun menjadi saksi pada hari ini, bahwa kamu tidak mendapat apa-apa dalam tanganku." Jawab mereka: "Dia menjadi saksi."

Lalu berkatalah ia kepada mereka: “TUHAN menjadi saksi kepada kamu, dan orang yang diurapi-Nyapun menjadi saksi pada hari ini, bahwa kamu tidak mendapat apa-apa dalam tanganku.” Jawab mereka: “Dia menjadi saksi.” (ayat 5)

Tidak banyak pemimpin yang dihormati dan dikagumi, karena tidak semua pemimpin yang berbuat yang baik dan benar bagi kepentingan banyak orang. Dan bukan rahasia juga bahwa tidak banyak pemimpin yang mau menerima saran, masukan bahkan kritik. Samuel, adalah pemimpin Israel yang memegang peranan penting bagi kehidupan Israel. Ia dipilih TUHAN ditengah krisis keluarga Imam Eli pada saat itu; Samuel juga ditugaskan untuk mengantar umat Israel menjadi bangsa Israel yang berdaulat dan dipimpin oleh raja. Di akhir kepemimpinannya, Samuel ingin menyelesaikan kepemimpinannya tanpa ada beban atau persoalan yang belum selesai; Samuel meminta bangsa Israel untuk berkata apa adanya tentang kepemimpinannya dan perilaku serta tindakannya (ayat 1b-3). Samuel meminta orang Israel berbicara apa adanya, tanpa keraguan apalagi kemunafikan untuk menyenangkan dirinya. Dan orang Israel dengan jelas dan tegas mengatakan bahwa: “Engkau tidak memeras kami dan engkau tidak menerima apa-apa dari tangan siapapun.” (ayat 4). Samuel dan Israel memiliki dasar pijak yang sama yaitu takut akan TUHAN; mereka bersaksi dengan benar tanpa kemunafikan karena mereka sadar, dewasa dan tahu benar bahwa ada TUHAN Allah yang menjadi saksi bagi mereka (ayat 5).
Memasuki hari yang baru, mari bersama kita jalani dengan penghayatan yang benar bahwa TUHAN Allah adalah saksi kita; Ia mengiringi setiap langkah, tutur kata serta perbuatan kita, tidak ada satu pun yang tersembunyi dan terabaikan dari pandangan-Nya. Nyatakanlah yang benar dan jauhi ketidak benaran.

Doa : (Ya TUHAN, bimbing kami untuk selalu menyatakan yang benar di dalam hidup yang Engkau karuniakan)

A.R.P/lph
Sumber : Sabda Bina Umat Oktober – November 2018